Beberapa waktu lalu, medsos tengah dipenuhi oleh tagar JusticeForAudrey. Emang… siapa sih Audrey? Dia bukan artis. Dia hanyalah gadis remaja usia 14 tahun di sebuah SMP di Pontianak yang mendadak menjadi sorotan publik dan muncul di headline-headline berita nasional bahkan manca negara karena kasus penganiayaan atau bullying oleh 12 remaja usia SMA. Bahkan, sejumlah artis pun turut bersimpati dan mempostingnya di channel youtube mereka. Konon, kejadian itu bermula hanya karena masalah percintaan. Ia dikeroyok, disiksa, bahkan diberitakan sampai dirusak kemaluannya. Mirisnya, ke-12 remaja SMA itu sama-sama perempuan. Namun, belakangan muncul pro kontra dari kasus tersebut karena perbedaan penjelasan kronologi antara keterangan Audrey dengan ke-12 siswa SMA hingga muncul tagar AudreyJugaBersalah dan hingga kini kasusnya tak kunjung usai.
Dari kasus itu, kita tengok sejenak apa sih yang seharusnya anak-anak seusia Audrey dan ke-12 anak SMA itu lakukan? Setiap orang tua berharap anak-anaknya berangkat sekolah dengan penuh semangat, fokus belajar dan pulang dengan senyum serta cerita-cerita indah tentang keakraban dengan teman-temannya dan bercerita tentang mimpi-mimpi besarnya di masa mendatang. Setiap orang tua tak pernah berharap kasus Audrey akan terjadi pada anak-anak mereka. Inilah pentingnya peran orang tua, termasuk guru, dalam mengawal perkembangan anak-anak usia remaja yang tengah mengalami masa puber.
Pentingnya Pendidikan Karakter pada Remaja
Dari sudut pandang psikologi, remaja yang beranjak dewasa akan mengalami satu siklus yang bernama pubertas. Di masa puber itu, anak-anak akan mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis. Dan pada masa-masa inilah mereka berhak serta diharapkan mulai membentuk karakternya. Karena, dengan karakterlah manusia akan mempunyai nilai-nilai tentang ketuhanan, diri sendiri (interpersonal), maupun yang berkaitan dengan sesama (intrapersonal). Nilai-nilai itu akan terwujud dalam setiap pemikiran, perkataan, perasaan, serta tingkah lakunya sesuai norma yang berlaku, baik norma hukum, susila, budaya dan adat istiadat di tengah masyarakat.
Pada diri setiap orang pasti memiliki karakter yang berbeda-beda yang ia peroleh dari pengalaman belajarnya baik dari keluarga, sekolah, maupun pengaruh lingkungannya. Karakter anak berperan penting dalam kehidupannya yang akan mengendalikan pikiran dan tingkah lakunya. Karakter yang setiap anak miliki akan menentukan kesuksesannya, cara menjalani kehidupannya, cara mewujudkan mimpi-mimpinya, serta cara memecahkan masalah (problem solving) dari setiap kesulitan yang dihadapi.
Pada dasarnya, kondisi anak terutama di usia puber tengah mengalami transisi baik fisik maupun psikis. Bisa dipastikan banyak remaja dalam masa-masa ini mengalami krisis kejiwaan ataupun labil. Banyak dari mereka dalam kondisi labil yang lebih mengedepankan emosi dari pada pemikiran rasional atau logis untuk mencapai keinginannya. Maka, tak heran banyak remaja yang melalukan penyimpangan hingga salah satunya muncul kasus Audrey, bahkan kasus-kasus bulllyinng maupun kenakalan remaja di daerah-daerah lainnya. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada remaja yang tengah mengalami masa puber sangat penting, tidak hanya di usia pra-sekolah (preschool). Karena, banyak tantangan, godaan, dan goncangan yang sedang mereka hadapi, dimana mereka butuh tameng untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik, mengingat di usia-usia ini mereka sudah mulai berpikir dan mengambil keputusan sendiri. Tidak hanya orang tua, namun guru, bahkan lingkungan sangat berperan penting untuk menghasilakan masyarakat yang berkarakter.
Memahami Pola Pikir Remaja
Untuk mengamini harapan tersebut, tentunya setiap orang tua maupun guru harus memahami pola pikir maupun psikis anak-anak atau remaja dalam proses pendidikan karakter (character building). Mereka memiliki kebutuhan emosional yang seringkali membuatnya labil dan semestinya ini diketahui oleh orang tua dan pendidik. Setidaknya ada tiga kebutuhan emosional anak, yaitu: kebutuhan untuk merasa aman, kebutuhan akan pengakuan, dan kebutuhan untuk mengontrol.
a. Kebutuhan untuk merasa aman
Merasa aman adalah kebutuhan dasar setiap orang. Untuk merasa aman, tak jarang banyak remaja membentuk kelompok atau semacam geng dengan teman sebayanya untuk menghimpun kekuatan bersama. Selain merasa aman, mereka biasanya senang untuk sharing permasalahan yang sedang dihadapi bahkan sebagai problem solvernya. Tidak sedikit anak yang lebih senang bercerita tentang masalahnya serta mencari solusinya kepada teman-temannya daripada kepada orang tuanya sendiri. Oleh karena itu, setiap orang tua wajib menyadari hal ini dan lebih banyak melakukan pendekatan kepada sang anak agar apapun yang terjadi pada mereka, mereka akan lebih senang menceritakan dan meminta masukan atau solusi dari orang tuanya. Dengan begitu, anak akan terpenuhi kebutuhannya akan rasa aman,
b. Kebutuhan akan pengakuan
Setiap individu ingin exist atau dianggap keberadaannya, ingin diakui, dan ingin diterima di komunitas atau lingkungannya. Begitu pula dengan anak atau remaja, mereka ingin diakui dan diperlakukan adil tanpa dibanding-bandingkan dengan yang lainnya. Mereka ingin mendapat pujian atas keberhasilan atau hal-hal baik yang telah dilakukkannya. Mereka ingin mendapat support atau motivasi atas apa yang ingin dicapainya. Mereka pun ingin mendapat kesempatan untuk melakukan suatu hal baik bagi mereka. Oleh karena itu, orang tua, guru dan orang-orang di lingkungannya perlu memberikan pengakuan terhadap anak agar mereka tidak mencari-cari pengakuan atau eksistensi diri di tempat atau lingkungan yang salah.
c. Kebutuhan akan mengontrol
Tidak ada orang yang ingin dikekang. Setiap orang termasuk remaja ingin bebas dan mandiri. Ini tak terlepas dari fase dimana usia remaja sedang berada di masa pencarian jati diri. Mereka tidak ingin terlalu didekte dengan bertubi-tubi babibu yang membatasi gerak atau aktivitas dan pergaulan mereka. Maka, tak heran banyak akan yang lebih mendengarkan saran dari teman atau orang lain daripada dari orang tuanya sendiri. Orang tua perlu memberikan kepercayaan terhadap anak namun tetap diiringi dengan kontrol positif yang disepakati dengan sang anak. Sehingga, anak-anak akan tetap dekat dan mendengarkan orang tuanya, namun ia tidak merasa terkekang dengan banyak larangan untuk belajar kemandirian.


0 Komentar