[FLASHBACK]  Si sulung Byan terlahir sempurna dengan BB 3,5 kg dan TB 49 cm. Bisa dibilang cukup besar lah untuk partus/ persalinan normal. Saat itu ia terlahir dengan peralatan sederhana di sebuah PKD (Pusat Kesehatan Desa) atau yang lebih dikenal dengan sebutan “polindes” oleh seorang bidan desa, Bu Erna namanya. 

Seharusnya Ia dibantu oleh seorang asistennya, tetapi pada saat yang bersamaan asistennya juga sedang membantu persalinan di tempat lain. Alhamdulillah ketika itu Tante Byan yang seorang dokter sedang mudik, jadi beruntung sekali bisa membantu proses persalinannya karena memang lumayan memakan waktu dan tenaga yang wow.

Dari cerita Bu Erna dan tantenya Byan, leher Byan terlilit usus saat itu. Orang-orang sih menyebutnya “kalung usus.” Jadi setiap kepalanya hampir keluar selalu tertarik masuk lagi. Sebuah perjuangan yang memang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, apalagi sebelumnya sudah merasakan suntikan induksi karena kontraksi yang melemah, ditambah kondisi badan yang memang kurang bertenaga karena sore sebelum partus memang belum makan.

24 jam tidak tidur! Yah… karena memang dari pagi sampai siang tidak tidur dan sore menjelang maghrib sudah merasakan kontraksi. Lama-lama kontraksinya semakin cepat dan terasa sakit yang luar biasa melebihi nyeri haid bulanan. Sampai akhirnya jam 9 malam ke PKD dengan alasan mencari tempat beralin terdekat karena memang sudah tidak bisa menahan sakit dan kebetulan orang-orang menilai Bu Erna bidan yang bagus, cekatan dan sudah berpengalaman. Sesampai sana dicek ternyata baru pembukaan 1 dan akhirnya disuruh pulang, disuruh kembali kesana esok paginya. Hah, Sakitnya! Sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kirain bakal diberi penanganan atau pil apa gitu semacam pereda sakit saat itu. Untung dekat rumah jadi tak terlalu lama merasakan sakitnya kontraksi di atas motor diboncengin suami. Sampai rumah pun hanya bisa tiduran menahan sakit. Lapar sudah tak selera makan. Ngantuk tak bisa tidur. Akhirnya sebentar-sebentar telapak tangan dan kaki minta dipijit suami. Katanya sih itu salah satu terapi untuk mengatasi rasa sakit ketika kontraksi.

Semakin lama, kontraksi itu semakin sering terasa dan sudah benar-benar tidak bisa ditahan. Jam 12 malam akhirnya diputuskan untuk segera ke polindes lagi, lagi-lagi dengan alasan dekat dengan rumah karena kalau ke RS harus naik motor kira-kira 10km melintasi jalanan yang sepi yang notabene kiri kanan jalan masih area persawahan. Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya keluarlah Bu Erna dan mempersilakan kami masuk. Ia mulai mengecek lagi. “Pembukaan tiga,” katanya. Suami pun langsung sigap meminta izin untuk tetap di sana sebelum kami diminta pulang untuk yang kedua kalinya. Alasannya, agar kami tidak bolak -balik dan takut sewaktu-waktu pembukaan penuh. Meskipun di rumah ada seorang dokter, tapi tak ada peralatan medis yang tersedia.

Detik demi detik terasa lama sampai terkadang terdengar suara detikan jarum jam di ruangan itu. Saat itu yang bisa dilakukan hanya rebahan, bangun, rebahan, bangun sambil menahan rasa sakit kontraksi. Sesekali Bu Erna datang untuk memeriksa. Sekali Ia datang membawakan segelas susu coklat hangat. Begitu sekali diteguk, perut terasa sangat mual dan akhirnya muntah. Sang suami terus memotivasi dan terus memijit telapak tangan dan kaki meskipun bolak-balik Ia tertidur dengan posisi duduk.

Tepat jam 03.00. Rasanya seperti ada yang mau keluar. Bu Erna memeriksa lagi dan ternyata sudah pembukaan penuh, jalan lahir sudah siap. Aku diminta mengejan sekuat tenaga dengan teknik yang Bu Erna ajarkan saat itu. Suami memegangiku kuat-kuat dan tanpa henti memotivasi. “Ayo terus, sebentar lagi keluar,” katanya. Begitupun dengan adikku yang ikut membantu proses persalinan. Tapi ya itu tadi, setiap kali terlihat rambut kepala sang bayi, selalu masuk lagi. Sampai capek aku, rasanya sudah tidak kuat lagi. Kontraksi melemah dan Bu Erna menyuntikkan sesuatu pada ku, katanya induksi. Ah, entah! Sempat beberapa kali aku meminta minum karena badan sudah sangat lemas bahkan aku sempat beberapa kali ketiduran karena mengantuk dan kecapekan. Suamiku selalu membangunkanku, membuka kelopak mataku. “Nggak boleh tidur!, “katanya.

Selalu ku coba dan selalu masuk lagi, sampai akhirnya Bu Erna bilang kalau sampai pukul 05.00 bayi belum keluar, aku harus dirujuk ke RS untuk di cessar. Ya Allah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku tak merasakan apapun lagi. Aku terus mengejan sekuat tenaga, semampuku, terdengar suami dan adikku terus memotivasi, “Ayo yang kuat, sebentar lagi, ini sudah kelihatan kepalanya.” Tapi sayangnya, sang bayi seperti tertarik lagi ke dalam. Aku menghela nafas. Tak berselang lama, kontraksi muncul lagi dan aku kembali mengejan. “Sudah kelihatan, Mbak. Ayo, tahan…dorong,” kira-kira seperti itulah kata-kata Bu Erna memberikan arahan saat itu, dan dengan cepat Ia agak menekan perutku. Aku sempat melirik jam saat itu, pukul 04. 45. Yah, jam 5 kurang 15 menit. Itu berarti kalau 15 menit bayi belum keluar berarti aku harus dilarikan ke RS dan harus diseccar. Sayup-sayup suara adzan terdengar dari masjid di dusunku. “Alhamdulillah,” ucap Adikku sambil menarik keluar seorang bayi kecil. Akhirnya sang bayi keluar juga setelah empat orang berjuang tanpa tidur... Semua sangat lega tanpa bisa ku deskripsikannya. “bayinya laki-laki,“ katanya lagi.

Belum berakhir di situ, ternyata sang bayi tak kunjung menangis layaknya bayi-bayi yang baru keluar dari perut ibu. Adikku masih menggendongnya dan terus menepuk-nepuk punggungnya beberapa waktu. Aku melihat suamiku, terasa sekali kami sangat tegang saat itu. Apalagi Bu Erna sempat bilang kalau air ketubannya saat itu sudah hampir habis dan kotor dan untung bayinya langsung keluar. Terdengar suara bayi menangis tapi masih seperti isakan, adikku terus menepuk-nepuk punggungnya dan akhirnya anakku bisa menangis kencang berbarengan dengan gema adzan subuh saat itu. Akhirnya… Alhamdulillah, Ya Allah… Welcome to the world, my baby boy… Welcome, Baby Byan…