Udah nggak asing ‘kan… belakangan ini etika pergaulan anak muda tengah menjadi sorotan publik di negeri ini. Pasalnya, mereka yang dinobatkan sebagai agen perubahan atau istilah bekennya “agent of change” banyak mengalami krisis moral, lupa budaya ketimuran, lalai akan unggah-ungguh alias kesopanan. Salah satu contoh kecil, banyak remaja bahkan orang tua tidak bisa, lupa, atau entah enggan sekedar mengucapkan kata “terima kasih” dan permintaan “maaf”. Sepele ‘kan?

Meski banyak orang menganggap kata-kata itu sepele, namun tanpa kita sadar efek dari dua hal itu sangat luar biasa. Saat ada seseorang mengucapkan kata “terima kasih” atas hal kecil yang telah kita lakukan, ada apresiasi tersendiri yang kita terima. Dan saat ada seseorang menyakiti hati kita lalu dia mengucapkan kata “maaf” berarti ada rasa bersalah dan penyesalan atas apa yang telah diperbuat. Setidaknya kata “maaf” bisa meredakan gejolak atau tekanan emosi seseorang. Singkatnya, bisa dibilang kedua ungkapan tadi sangat ampuh untuk bisa saling menghargai, memupuk kasih sayang, bahkan meredakan gejolak permusuhan. Sepele tapi penting ‘kan? Apalagi sudah memasuki ranah pergaulan yang lebih luas, tak lagi sebatas pertemanan dua bocah atau remaja, tetapi nantinya ketika sudah memasuki dunia kerja saat dewasa dan bahkan dalam bersosialisasi di masyarakat.



Biasakan Sejak Dini
Mengajari seseorang untuk bisa mengatakan “terima kasih” dan “maaf” tidak lah sulit. Tetapi, membiasakannya untuk mengucapkan kata-kata itu pada momen yang dirasa perlu mengatakanlah yang tidak mudah. Kita yakin setiap orang sudah bisa dan tahu teorinya, tapi enggan, lupa atau tak terbiasa, bahkan sombong sehingga tidak mau mengatakannya. Oleh karena itu, perlu pembiasaan sejak dini pada anak, terutama oleh orang tua atau keluarganya. Berikan contoh dan biasakanlah. Kita yakin setiap orang tua adalah model bagi anak-anaknya. Apapun yang dilakukan sebagian besar orang tua akan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Benar kata peribahasa kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Hal yang sering dilakukan lambat laun akan terpatri dan menjadi kebiasaan pada dirinya, meskipun itu sekedar ungkapan kecil.

Mulai dari Hal-hal Kecil
Jangan menunggu hal-hal atau momen besar untuk mengajari anak mengucapkan kata “terima kasih” dan “maaf.” Jangan hanya di setiap peringatan hari besar atau spesial untuk sekedar berterimakasih, contohnya saat lebaran atau natal karena keluarga/ temannya telah memberikan bingkisan. Jangan pula mengajari anak mengucapkan “maaf” hanya saat lebaran karena melihat sekelilingnya sedang bermaaf-maafan.

Mulailah kita ajarkan anak untuk bisa berterimakasih dan meminta maaf pada hal-hal kecil setiap hari. Saat Ayah memberikan uang receh sepulang kerja untuk dimasukkan ke tabungannya, ajarkan anak berucap “terima kasih.” Ketika anak menumpahkan minumannya, ajarkanlah dia untuk meminta maaf. Bahkan orang tua pun perlu mengucapkan terimaksih dan meminta maaf pada anaknya atas hal-hal kecil yang terjadi di rumah karena itu akan menjadi contoh/ pelajaran berharga untuk sang anak. Jangan gengsi!